Kabar

Membahas Legal Pedagogy di ASLI Conference

Posted by on 08/06/2017 in Kabar, Konferensi

Inayah Assegaf—Wakil Ketua STH Indonesia Jentera—mengikuti 14th Asian Law Institute (ASLI) Conference di Manila pada 18—19 Mei 2017. Konferensi bertema “A Uniting Force?–Asian Values and the Law” ini diselenggarakan oleh National University of Singapore dan University of Philippines sebagai tuan rumah. Keikutsertaan Inayah dalam konferensi ini mendapat dukungan dari Knowledge Sector Initiative (KSI).

 

Konferensi tersebut diikuti oleh 195 peserta dari berbagai negara di Asia dan juga di luar Asia. Selama dua hari konferensi, terdapat 6 sesi; satu sesi terdiri 6 panel yang berlangsung secara paralel. Berbagai topik dibahas dalam konferensi itu, seperti Constitutional Law, Corporate Law & Governance, Criminal Law, dan Environmental Law. Hampir semua peserta berasal dari berbagai kampus di Asia, meski ada juga peserta dari kampus di wilayah lain, seperti Amerika Serikat dan Inggris.

 

Inayah mempresentasikan papernya yang berjudul “Do We Take Pedadogy in Legal Education as Seriously as We Should Be?” Dalam presentasinya, Inayah mengajak peserta mendiskusikan dua isu utama. Pertama, mengapa dalam pendidikan hukum banyak sekali pembicaraan dan perdebatan tentang apakah pendidikan hukum termasuk pendidikan akademik atau pendidikan profesional, tetapi sedikit sekali pembicaraan dan referensi mengenai legal pedagogy? Hal tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi terjadi juga di negara-negara lain. Padahal, aktivitas mengajar (dan persiapannya) mengambil porsi sangat besar (70%) dari tanggung jawab seorang dosen.

 

Isu yang kedua adalah mengapa mayoritas pengajar di sekolah hukum di Indonesia memilih metode ceramah sebagai satu-satunya metode pengajaran? Apakah ini sebuah pilihan yang dilakukan secara sadar untuk mencapai output yang diharapkan ataukah suatu hal yang dianggap given dan berlangsung turun-temurun? Diskusi berjalan dengan menarik. Peserta dari berbagai negara, seperti Thailand, India, Malaysia, Australia, Amerika Serikat, ikut menyumbangkan pemikirannya dan menceritakan pengalaman mereka dalam mencoba menerapkan berbagai metode pengajaran di kampusnya. Semua sepakat bahwa isu ini merupakan isu penting yang perlu lebih sering didiskusikan oleh para pengajar dan pengelola sekolah hukum.

Penulis : IA
Editor : APH

Kabar

Penelitian dan Advokasi Bidang Legislasi dan Peradilan

Untuk pertama kalinya Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera dan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indoensia […]

Mahasiswa Jentera Kembali Meraih Penghargaan di Ajang MUN

Setelah meraih penghargaan Verbal Commendation Award di gelaran Bandung Model United Nation, salah satu mahasiswa […]

Mahasiswa Jentera Raih Karya Favorit dalam Lomba Penulisan Blog MK

Prestasi kembali ditorehkan Mahasiswa STH Indonesia Jentera dalam Lomba Penulisan Blog yang diselenggarakan oleh Mahkamah […]

Membedah Konstruksi Pengaturan Buku I Rancangan KUHP

Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera bersama dengan PSHK Indonesia dan Puskapa, mengadakan diskusi publik bertema […]

Bivitri Susanti Bergabung dengan Tim Pemantau Pengusutan Kasus Penyerangan Novel

Pengajar dan Wakil Ketua STH Indonesia Jentera, Bivitri Susanti, bergabung dengan tim pemantauan atas penanganan kasus […]

Mahasiswa Jentera Raih Penghargaan di Kompetisi Bandung MUN

Mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera berhasil meraih prestasi dalam gelaran Bandung Model United […]

Kerjasama Program Magang: STH Indonesia Jentera dan Bawaslu RI

STH Indonesia Jentera menandatangani nota kesepahaman penyelenggaraan program magang dengan Badan Pengawas Pemilu RI (Bawaslu […]

Kedutaan Besar Kanada dan Jentera Membahas Kerjasama Pendidikan

  Senin, 11 Desember 2017. STH Indonesia Jentera dan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia […]